Minggu, Maret 30, 2008

Sebaiknya Dengan Kartu Kredit

Tadi siang sepulangnya dari Muara Angke (abis beli ikan..he3), sempat nonton berita di TV. Sayang banget terlambat nontonnya, beritanya seputar kecenderungan kredit konsumtif yang akan banyak macet di Indonesia. Ada beberapa komentar yaitu dari ekonom Amerika, tukang ojek dan satu lagi saya tidak tahu namun dia sempat berkomentar kalau di Amerika ada problem Subprime Mortgage, di Indonesia mungkin akan ada Subprime Lending. Kemudian ada ilustrasi jumlah kredit dan rasio kredit macet di tahun 2007. Ada tiga jenis kredit, saya hanya ingat dua yaitu kartu kredit dan KPR. Yang menarik adalah jumlah kredit terbesar adalah berasal dari KPR dengan rasio kredit macet kalau tidak salah sekitar 5% dan kredit paling kecil berasal dari kartu kredit namun dengan rasio kredit macetnya 11%.

Wah..Wah....Ternyata semakin banyak orang Indonesia yang memanfaatkan kartu kredit sebagai kartu untuk berhutang.

Kartu kredit adalah bukan kartu yang memberikan pemiliknya tambahan/bonus uang untuk dibelanjakan dengan cuma-cuma. Banyak yang salah kaprah dengan memanfaatkan kartu kreditnya sebagai tambahan pendapatan. Padahal dengan digeseknya kartu kredit tersebut maka akan timbul kewajiban bagi pemiliknya untuk membayar tagihannya. Dengan anggapan seperti maka akhirnya banyak pemilik kartu kredit yang akhirnya terjebak hutang apalagi rata-rata kartu kredit memberikan tingkat bunga hutang yang lumayan tinggi. Coba bayangkan saja, kalau rata-rata kartu kredit memberikan tingkat suku bunga hutang 3,5% maka gampangnya tinggal dikali 12 saja yaitu 42%/thn. Ditambah dengan kemudahan pembayaran cicilan yaitu dengan pembayaran minimum sehingga seakan-akan terbebas dari kewajiban pembayaran hutangnya.

Kalau kita bandingkan dengan produk investasi, apakah ada yang dapat memberikan tingkat suku bunga seperti itu dan tetap? Kita juga tidak dapat meminta pihak penerbit kartu kredit untuk menurunkan tingkat suku bunga hutangnya karena hutang kartu kredit tidak disertai jaminan (risikonya lebih tinggi) sehingga cukup masuk akal kalau suku bunga hutangnya harus lebih tinggi daripada suku bunga hutang yang lainnya.

Memiliki kartu kredit, apalagi di saat sekarang ini, buat saya adalah suatu keharusan. Asalkan dapat dimanfaatkan dengan sebijaksana mungkin. Banyak juga koq manfaatnya...Misalnya saja, digunakan kalau ada situasi darurat, sebagai alat pengganti uang tunai sementara atau untuk pendebetan tagihan-tagihan rutin, dsb. Repot juga khan kalau mau beli sesuatu dengan harga yang relatif mahal tetapi harus bawa uang tunai atau harus ingat banyak tanggal untuk semua tagihan-tagihan rutin.

Penting juga diperhatikan setelah menggunakan kartu kreditnya dan timbul kewajiban maka lakukanlah pembayaran sebesar 100%. Jangan hanya membayar minimum atau 10% saja...Bisa repot kalau begitu, lihat lagi tulisan diatas bahwa suku bunganya relatif tinggi. Kalau kita tidak membayar penuh maka akan dikenakan tingkat suku bunga tersebut.

Semoga bermanfaat...

Rabu, Maret 26, 2008

Premi Asuransi Jiwa Naik 67%

Ada artikel mengenai kenaikan premi asuransi jiwa yang saya kutip dari http://www.okezone.com/

Produk asuransi jiwa yang sejak beberapa tahun terakhir ini marak adalah yang jenis Investment Linked (Unit Linked). Apalagi dengan iklim investasi di pasar modal yang juga atraktif akhirnya menambah keyakinan masyarakat untuk berasuransi sampai saat ini.

Apakah Anda sudah memiliki Asuransi Jiwa? Kalau kata pepatah, Sedia Payung Sebelum Hujan...


Rabu, 26 Maret 2008 - 12:10 wib
Nuria - Okezone

JAKARTA - Total pendapatan premi asuransi jiwa pada kuartal IV-2007 mencapai Rp44,4 triliun atau tumbuh 67 persen, dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp26,5 triliun.Hal itu dipaparkan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evalina Pietruschka, dalam jumpa pers, di Plaza Semanggi, Jakarta, Rabu (26/3/2008).

Dari total pendapatan premi tersebut, sebesar Rp30,6 trilun adalah pendapatan premi produksi baru. "Angka ini tumbuh signifikan 94 persen atau melesat dibanding posisi sebelumnya sebesar Rp15,8 triliun," jelasnya.

Tidak hanya itu, total pendapatan premi kuartal IV-2007 melebihi total pendapatan premi sepanjan 2006 yang hanya mencapai Rp27,3 triliun.

"Kebangkitan ini karena membaiknya kondisi perekonomian dalam negeri, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memiliki asuransi jiwa," papar Evalina.

Industri asuransi jiwa juga melakukan inovasi produk dan meningkatnya jalur distribusi.

Industri asuransi jiwa nasional juga membukukan pertumbuhan perndapatan hasil investasi pada kuartal IV-2007 senilai Rp10,4 triliun, atau tumbuh 75 persen dibanding tahun yang sama tahun sebelumnya Rp5,9 triliun.

Sehingga total pendapatan industri asuransi jiwa menjadi Rp58,2 triliun atau tumbuh 76 persen dari Rp33,1 triliun.

Pertumbuhan total aset industri asuransi jiwa tercatat senilai Rp101,2 triliun atau meningkat 52 persen dibanding sebelumnya Rp66,4 triliun.

Data diperoleh dari data kinerja 40 perusahaan asuransi jiwa yang terdiri dari satu perusahaan BUMN, 24 perusahaan swasta nasional, dan 15 perusahaan patungan (joint venture). (rhs)

Minggu, Maret 23, 2008

Reksa Dana, Sebagai Salah Satu Instrumen Perencanaan Dana Pensiun

“Sebagian orang masih menganggap masa pensiun bagaikan akhir dunia. Hal ini bisa dihindari jika kita memiliki investasi yang tepat, untuk menjamin ketersediaan finansial sepanjang waktu yang kita inginkan”

Kutipan kalimat tersebut saya dapatkan dari brosur yang dikeluarkan oleh salah satu Bank BUMN. Kebetulan waktu itu ada keperluan transaksi ke CS setelah selesai muncul kebiasaan untuk cari-cari brosur yang terbaru dan ternyata di rak mejanya saya lihat ada brosur menarik yang kemudian saya bawa pulang.

Masa pensiun adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Sama seperti masa pendidikan anak yang rasanya tidak mungkin ditunda-tunda. Oleh karena sifatnya yang sudah pasti itu maka seharusnya kita mempersiapkannya dengan sedini mungkin. Kalau kata orang, tinggal tunggu saja tanggal mainnya....Walaupun sudah pasti akan terjadi tetap saja banyak orang yang belum mempersiapkannya dengan baik.

Tujuan dari perencanaan dana pensiun adalah untuk mempersiapkan sejumlah dana untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan biaya yang akan timbul di masa pensiun. Orang pensiun khan tetap saja butuh biaya-biaya...Masalahnya kalau umumnya sebelum masa pensiun alias masa produktif masih menerima penghasilan namun saat pensiun sudah tidak mempunyai penghasilan lagi.

Sekarang bagaimana mempersiapkannya? Banyak cara….Salah satunya berinvestasi melalui instrumen investasi Reksa Dana. Kenapa Reksa Dana, karena produk ini relatif mudah dijangkau , murah dalam arti dapat dibeli dengan nominal tidak terlalu besar dan memiliki potensi kinerja investasi yang relatif tinggi. Salah satu kunci keberhasilan dari perencanaan dana pensiun adalah kinerja investasinya dalam jangka panjang harus diatas tingkat inflasi. Nah, Reksa Dana memiliki karakteristik tersebut.

Berapa banyak yang harus disisihkan? Idealnya adalah dihitung dulu kebutuhan dana pensiunnya. Caranya dengan menghitung kebutuhan biaya saat ini dengan memperhitungkan tingkat inflasi sampai saat pensiun. Setelah itu baru dapat dihitung berapa besar dana yang harus disisihkan dari sekarang dengan asumsi investasi tertentu. Minimal pada masa pensiun, kita tetap dapat mempunyai gaya hidup yang tidak jauh berbeda atau bahkan lebih baik lagi

Reksa Dana jenis apa yang paling baik? Melihat dari jenis Reksa Dana yang tersedia saat ini sangat disarankan untuk Reksa Dana dengan unsur saham. Apakah itu yang sifatnya campuran atau mayoritas di saham. Andaikan kita cenderung mempunyai profil risiko yang konservatif tetapi dengan melihat potensi kinerja investasi yang dapat melebihi tingkat inflasi dalam jangka panjang, paling tidak harus ada Reksa Dana jenis ini walaupun minimal. Seiring waktu dan pengetahuan kita akan investasi lebih baik maka komposisi Reksa Dana dengan unsur saham dapat diperbesar lagi.

Belinya dimana? Hmm….Kalau dulu waktu Reksa Dana merupakan produk yang masih terbilang baru, belinya harus langsung ke perusahaan penerbitnya, Manajer Investasi. Saat ini, sudah banyak Bank yang menjadi agen penjualnya. Sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih mudah untuk membelinya. Tidak ada masalah mau beli dimana, cari yang paling nyaman buat kita.

Setelah itu apa yang harus kita lakukan? Apapun alternatif yang dipilih, kunci mempersiapkan dana pensiun adalah harus disiplin ! Ya, disiplin dalam hal menyisihkan dananya. Karena kadang kejadian kita tidak disiplin sehingga target dana tidak tercapai dan akhirnya masa pensiunnya tidak seindah yang telah dibayangkan. Nah, agar tidak terlalu memberatkan kita dapat menyisihkannya secara rutin atau minimal tiap bulan. Segera setelah menerima gaji, jangan langsung dibelanjakan tetapi sisihkan sebagian untuk masa pensiun.

Selain melalui Reksa Dana, ada produk lain yang dapat digunakan sebagai perencanaan dana pensiun, yaitu Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Produk ini sebenarnya mirip-mirip Reksa Dana namun ada perbedaannya...Apa dan bagaimana DPLK, Insya Allah akan saya jelaskan pada kesempatan yang akan datang.